Ketika saya naik sebuah bus tua di kawasan kota Bandung, di tengah terik panas matahari yang begitu menyengat dan penuh sesaknya penumpang yang berebut ingin duduk, naiklah seorang anak kecil lusuh dan tanpa alas kaki membawa kumpulan tutup botol yang dirangkai pada sebuah kayu dan dijadikan alat musik, mereka bernyanyi dengan suara cempreng namun penuh semangat tanpa memerdulikan apakah suara mereka didengar oleh para penumpang bis atau tidak, setelah itu mereka menengadahkan tangannya kepada para penumpang bis untuk meminta beberapa receh yang mungkin masih tersisa di kantong para penumpang.
Tak lama berselang ketika berhenti di lampu merah saya turun dari bus tua tersebut karena perjalanan saya memang hanya sampai disana, ketika turun saya memperhatikan seorang bapak tua yang tidak mampu lagi berjalan sedang menengadahkan tangannya pula mengharap receh yang mungkin masih saya punyai .
Lalu untuk melanjutkan perjalanan saya naik angkutan kota, ketika mobil transportsi publik itu berhenti di lampu merah kembali saya menemui hal yang sama, yaitu anak kecil lusuh yang berusaha mengibur para penumpang angkutan kota tersebut
Fenomena tersebut mungkin sudah sangat biasa bagi kita terutama bagi mereka yang tinggal di kota besar, permasalahannya adalah apakah kita memberikan andil terhadap kehidupan mereka? tiap orang mempunyai pendapat yang berbeda tentang mereka, ada yang mengatakan jangan memberikan uang anda kepada mereka karena akan membuat mereka manja dan terus meminta-minta pada anda seperti yang saya baca pada “http://mantan-bbd.blogspot.com/2005/07/hentikan-memberi-uang-kepada-anak” , ada juga yang mempunyai rasa belas kasihan dan memberikan beberapa receh yang mereka punyai untuk anak jalanan tersebut
Pelik memang layaknya makan buah simalakama, jika memberikan uang maka kita akan takut uang kita disalahgunakan, jika tidak diberikan juga hati masih memiliki rasa belas kasih agar mereka tetap dapat makan. Namun jika dipikir secara rasional apakah mereka juga bisa berpikir yang sama dengan kita pikirkan? apakah mereka sempat berpikir untuk bergabung dengan yayasan yang mau menampung mereka? apakah yayasan tersebut sudah benar-benar bisa membantu mereka? apakah mereka bisa memikirkan sejauh itu sedangkan mereka dalam keadaan lapar. Jika saya bisa berempati terhadap mereka maka saya akan jawab “tidak”. Mungkin dengan kepingan 100 atau 200 itulah keihklasan kita diuji, mungkin dengan uang yang bagi kita sudah tidak berharganya namun amat berarti bagi mereka tersebut toleransi kita diperhitungkan, jangan pernah mengatakan tidak sementara kita tidak bisa memberikan solusi bagi mereka, janganlah bersembunyi dibalik slogan yang dikeluarkan tentang mereka untuk ketidaksudian anda untuk membantu mereka.
Mereka memang kumuh namun mereka juga termasuk saudara anda, mereka tidak pernah meminta dilahirkan menjadi seorang pengemis. Sangat kompleks memang, namun berikanlah sesuatu yang mungkin bisa membuat mereka tersenyum kembali, barangkali memang mereka mengganggu anda tapi mereka juga manusia yang berhak untuk hidup, pikirkanlah kembali dengan bijak, semoga…


August 11, 2008 at 10:58 pm
tulisannya menarik ya… semenarik fenomena anak jalanan itu sendiri… memang ga akan ada habisnya jika membicarkan tentang polemik anak jalanan… terkadang hati kita tergerak untuk sekedar memberikan sepeser uang kita kepada mereka… kita merasa iba melihat kondisi mereka… tapi ternyata rasa mulia itu justru malah menjerumuskan mereka…
pemberian qt justru disalah artikan oleh mereka… mereka merasa bahwa mencari nafkah (baca:meminta2) adalah jalan untuk mempertahankan hidup… karena hanya dengan meminta2 mereka bisa hidup sampai sekarang… lalu apakah kita rela membiarkan sodara kita tetap meminta2 seperti itu?
sekarang tinggal kembali lagi ke kita, mau menyalurkan niat mulia kita langsung kepada mereka dengan memberikan seperser uang atau kita transformasikan niat mulia kita kepada mereka dengan cara yang lebih baik (baca:mendidik) lagi…
mari selamatkan generasi masa depan kita!
August 29, 2008 at 3:24 pm
terima kasih saya ucapkan kepada bung Edward atas masukannya (maaf saya memanggil dengan sebutan bung semata-mata hanya karena ingin menjaga kesopanan)memang benar berbicara tentang masalah ini memang tak akan habisnya, kita sama sama tidak mengetahui bagaimana kehidupan mereka sebenarnya, jangan sampai niat baik kita menjadi terkotori himbauan yang sebenarnya kita tak tahu tujuannya relevan atau tidak, saya tergerak berbagi dengan mereka hanya karena ingin menolong, karena hanya itulah yang bisa saya lakukan, dan tentu saja untuk kasus ini saya tidak asal “memberikan” kita bisa membedakan mana yang benar benar membutuhkan dan mana yang hanya sekedar “iseng”
semoga kita bisa sama sama membantu mereka dengan cara lebih baik lagi…