Kawan, pernahkah kau merasakan cinta tak terbalas, kalau kau belum, aku pernah, rasanya… perih tak terperi, bahkan mungkin kau akan mengharapkan sebuah kejadian buruk menimpa kepadamu untuk mengurangi sakitnya akibat cinta tak terbalas, racun yang diobati dengan racun, mungkin itu salah salah satu penawarnya untukmu. Aku bukan tak pernah bermain cinta, aku bukan tak pernah mencari cinta, hanya saja cinta itu menyengsarakan untukku. Kata orang bijak itu adalah cinta sesaat dan mungkin mereka benar, namun cinta sejati, itulah yang aku cari, dan sampai saat ini aku belum menemukannya. Kata orang cinta sejati akan datang setelah terjadinya ikatan suci yang diikuti keikhlasan hati,benarkah itu? Ah.. Aku tak tau, atau mungkin aku belum sampai ke tahap itu, suatu saat mungkin.
Lalu, apa kaitannya dengan cinta tak berbalas? Begini kawan…. Dalam mencari cintaku selalu kuikuti dengan niat baik, tak pernah terbersit sedikitpun dalam pikiranku untuk mempermainkannya, tapi kiranya nait baikku ini belum sempat tercapai barangkali. Diacuhkan memang tak ada enaknya, seolah mengatakan bahwa kau tak pantas untuknya, dari ketertarikan secara fisik, materialistik, filosopik, idealisme, kemistri, dan gengsi tak sedikitpun kau memenuhi kualifikasinya.
Ceritanya begini kawan, Aku mencintai seorang gadis, dan sama seperti gadis-gadis yang sebelumnya, ia pun ternyata tak mencintaiku. Tak terbilang hari yang telah kulewatkan untuknya, tak terbilang pula usaha yang aku lakukan untuk menyadarkannya keberadaan diriku, pelan dan pelan selalu kuketuk hatinya, kutetesi dengan air setetes demi setetes untuk melubangi pintu hatinya, kuusahaan untuk mencairkan hatinya, api ku memang kecil namun api itu selalu ada untuk mencairkannya. Aku memang bukan pecinta sejati yang setiap gerikku dan lisanku dapat melenakannya, aku memang tak selalu memenuhi hatinya dengan rayuan-rayuan, namun tahukah kau kawan apa arti dari sebuah ketulusan, ketulusan itu tak butuh banyak aksi, ia mengalir saja. Tak perlu lah rayuan mu -kau lah bulan, kau lah bintang- kau lontarkan. Cukup hanya kau memandangnya dengan penuh ketulusan, kau tunjukkan raut mukamu yang mengatakan bahwa kau akan tetap ada menemaninya kala ia sakit dan renta, bahwa kau akan mengatakan dia cantik walaupun kulitnya telah keriput, manis sekali bukan… namun tak semua orang mampu memiliki ketulusan seperti itu, dan tak semua pula gadis menyadari bahwa kau memiliki hati seperti itu.
Seorang filsuf yunani kuno merangkum teori bercinta dan menyimpulkannya dalam rangkaian kata “love me or just hate, but spare me with your indifference” cintai atau sekalian benci aku, asal jangan kau acuhkan aku, tak ada cinta yang lebih menyakitkan daripada diacuhkan.
Ah… sudahlah, tak perlu rasanya aku berteori terlalu banyak, kuncinya sabar kawan… tak ada buah yang lebih manis dari buah kesabaran, percaya saja bahwa kau akan menemukan cinta sejatimu suatu saat nanti, kau memang tak akan tahu cinta seperti apa yang akan kau dapatkan nanti. Setidaknya dengan sabar maka kau telah mempersiapkan dirimu untuk menerimanya, percayalah kawan…Tuhan maha tau, Ia hanya akan memberikan apa yang kau butuhkan.
-untuk sahabatku yang tak pernah lelah mencintai-
June 18, 2009 at 12:36 am
woiii,
kamana wae atuh
skrg mag jadi pujangga uy….
June 20, 2009 at 3:47 pm
hahaha..
hanya mencoba menulis bei… curhat colongan wkwkwkw….