Sebenarnya, tak ada pakem khusus yang mengatur hubungan antar-manusia, perilaku yang selama ini terjadi adalah akumulasi dari perbuatan manusia yang telah dilakukan berulang dalam jangka waktu yang panjang, jika sebenarnya ditilik-tilik, belum pernah ada hukum yang mengatur tata cara berhubungan antar sesama manusia, tak ada yang mengesahkan bahwa perilaku ini adalah benar dan perilaku itu adalah salah, sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Tuhan.

Begitu pula dengan hubungan antara seorang pria dan wanita, sebuah lagu yang digugah oleh Ismail Marzuki menyatakan wanita itu dijajah pria. Pada zaman dahulu mungkin saja hal ini terjadi, budaya saat itu mengajarkan wanita harus tunduk kepada suaminya ditambah dengan penafsiran bahwa wanita adalah ladang bagi suaminya. Namun seiring perkembangan zaman pemahaman tersebut mulai berubah, dipicu oleh gerakan emansipasi wanita yang di prakarsai RA Kartini, wanita mulai menunjukkan dirinya kepada dunia, kesetaraan pendidikan pelan-pelan mengubah paradigma bahwa wanita juga layak menjadi apa yang dia inginkan.

Emansipasi cenderung membawa dampak positif, wanita semakin maju, di beberapa kondisi wanita dapat melebihi pria, banyak wanita yang bisa menjadi pemimpin pria, bahkan di beberapa Negara puncak kepemimpinan dipegang oleh seorang wanita, presiden Indonesia pun pernah dijabat seorang wanita. Akan tetapi di beberapa kasus sering terjadi kesenjangan hak dalam aplikasi emansipasi ini, wanita tetap meminta hak untuk disetarakan dengan pria atau melebihinya, namun untuk pekerjaan tertentu wanita sering berlindung dibalik kelemahannya. Ketika sedang diajak debat dan tidak mampu memberikan argumen yang cukup layak, mereka menangis, membuat orang sekeliling mereka berpikir, betapa memalukannya pria telah membuat seorang wanita menangis, padahal mereka sedang berbicara dalam kapasitas yang sama. Ketika wanita dan pria diberikan kuantitas pekerjaan yang sama, seringkali si wanita meminta porsi yang lebih sedikit dengan alasan bahwa mereka tidak sekuat pria, karena itu wajar jika pria mendapat porsi yang lebih banyak, padahal pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik yang besar.

Hubungan antara pria dan wanita pada zaman inipun cenderung berubah, pemikiran yang berkembang pada saat ini adalah pria mencari dan wanita menunggu, entah harga diri macam apa yang membentuk para wanita tersebut untuk berpikir bahwa mereka layak diperebutkan, mereka tidak pantas mengejar, mereka hanya layak dikejar, Mereka pantas dilayani. Pada kenyataannya sekarang pria lah yang lebih banyak dijajah wanita.

Lalu untuk apa emansipasi, kalau itu hanya menjadi alasan wanita untuk mengalahkan pria tanpa harus dikalahkan, meminta superioritas namun berlindung di balik kelemahannya.

Memang sampai saat ini tak ada hukum yang mengatur perilaku hubungan tersebut, apa yang selama ini berlaku hanyalah aturan tak tertulis yang didasari oleh asumsi banyak pihak dengan kepentingan yang sama, keseragaman pendapat belum tentu benar, sesuatu yang dibenarkan banyak orang belum tentu kebenaran yang hakiki, sekarang tinggallah anda yang memutuskan untuk mengikuti kebenaran yang dianut orang banyak atau kebenaran yang anda anut berdasarkan kepercayaan anda terhadap Tuhan.

Advertisement