Taman itu masih ada, belum ada yang berubah, pohon itu juga masih berdiri, hanya saja mungkin daunnya telah berguguran dan tumbuh lagi lalu begitu seterusnya. Pohonnya tak rindang memang, tak sanggup menyembunyikan kita berdua yang sama-sama berbadan mungil dibawah bayang-bayangnya, aku kepanasan terbakar terik matahari, namun aku masih bisa terlelap dipangkuanmu, hanya sepuluh menit saja, bayangan pohon itu hanya menaungimu yang sedang menatap jauh entah apa yang sedang kau pikirkan, sedangkan aku tertidur, entah kenapa dipangkuanmu hari rasanya sejuk saja. Dalam diam tak ada ruang untuk kebohongan, kejujuran mengalir perlahan, namun semuanya hanya bisu, tak sepatah katapun mengalir, hanya hembusan nafas perlahan yang terkalahkan semilir angin ditengah terik dan kicauan burung, namun aku tahu ada ketulusan disana.

Lalu semuanya kembali menjadi biasa, engkau diam, aku diam, engkau berkata, aku tetap diam, engkau tertawa, aku tersenyum, tak ada yang tahu kalau aku juga ingin tertawa, namun aku tak mampu, kau kembali menjadi tembok kukuh tinggi tak tersentuh, dan aku kembali menjadi lumpur yang terus melemparmu, berharap dapat merobohkanmu, dan yang masih tak berubah, kau tetaplah mercusuar.

Tak terbilang purnama telah berlalu, dan sang waktu tak pernah lelah menjalankan tugasnya, detik demi detik berjalan dan tak pernah berhenti, angin musim barat telah berganti, bertiup ke selatan, lebih ramah tentu saja, namun mercusuar itu masih saja terlihat, masih menjadi tumpuan arah bagiku, semakin menunjukkan keangkuhannya,yang tak pernah takluk ditentang waktu.

Biduk terus berlayar, kerasnya angin musim barat mengombang-ambingku, ternyata aku hanya berlayar di tempat, kukira telah jauh aku berlayar, angin menghempasku kembali ke tempatku semula.

Andai saja waktu bisa kuminta tolong, aku ingin kembali kesana, terlelap, dan biarlah…

sepuluh menit yang entah kenapa, telah mengajariku banyak hal.