February 2011


Ada beberapa pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul di benak saya, terkait dengan hobi saya suka memperhatikan orang lain, saya sering merumuskan pola tersendiri tentang perjalanan hidup seseorang. Pertanyaan yang muncul adalah, betulkah orang yang sukses –setidaknya orang yang kau anggap sukses- itu telah tercetak semenjak dini? Berdasarkan pencatatan saya, berbagai orang yang saya anggap sukses itu adalah para pemegang juara sewaktu kecil, mungkin juara kelas, mungkin juara kompetisi, mungkin juga juara dalam berkelahi, paman saya yang saya anggap sukses, saya tahu bahwa sepanjang dia bersekolah dia selalu bertonggok di posisi teratas prestasi kelas, teman dekat yang saya ketahui pun tak pernah meninggalkan posisi 3 besar di kelasnya  hingga sekarang saya lihat dia ada dalam kategori sukses setidaknya menurut saya, orang yang terkenal yang menjadi inspirasi saya pun selalu bercerita bahwa mereka selalu menjadi juara kelas ketika masih bersekolah. Kalau begitu betulkah kesuksesan seseorang itu dapat dilihat semenjak kecil? Jawaban bijak untuk pertanyaan ini “tentu tidak”, “karena kesuksesan itu adalah hasil kerja keras”, begitu kata mereka yang menganggap diri mereka cukup bijak untuk menasehati orang lain. Bagi saya kesuksesan itu tidak lah harus muluk-muluk, tak perlu menjadi orang yang nomor satu, bagi saya menjadi sukses itu cukup mempunyai sesuatu yang diatas rata-rata orang lain. Kalau begitu bagaimana dengan saya? Akankah saya akan menjadi sukses pula? Jika sepanjang pengetahuan, saya tidak punya prestasi yang mengagumkan, juara kelaspun hanya sesekali, bisa dihitung dengan jari, sekolah tidak di tempat yang berprestasi, buat saya, tidak membanggakan. Saya hanya manusia rata-rata, menjadi butir pasir di padang pasir.

Hasil pengamatan saya diatas, bukanlah sebuah teori dangkal, banyak sampel yang saya kumpulkan, durasi pengumpulan sampel yang cukup lama, tapi mungkin saja sampel yang saya kumpulkan itu salah, kalau dalam bahasa statistiknya random sampling, atau mengambil sampel yang tidak representatif, saya juga berharap alasan-alasan yang saya sebutkan sebelumnya benar, sehingga kesimpulan saya juga salah, dengan begitu saya juga berkesempatan menjadi sukses.

Saya juga bukan orang yang pesimis, pengalaman hidup mengajarkan saya untuk skeptis, jangan percaya sebelum itu terjadi pada dirimu, itulah yang selama ini saya pegang.

Sepanjang hidup, saya selalu dikelilingi kata-kata bijak, terlalu banyak sampai saya tak tahu yang mana yang harus saya ikuti, malah membuat saya bosan, jenuh. Mungkin satu persatu, kata-kata bijak itu harus saya coba, untuk kemudian saya tahu yang mana yang paling benar.

Kesuksesan memang sebuah perjalanan yang panjang, ada yang telah mempersiapkannya sedari kecil, ada juga yang diberi kesempatan dan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut.

Yang pasti, saya punya target sendiri, saya punya standar sukses sendiri, yang saya tahu, saya sedang bekerja untuk itu, tak peduli apa yang terjadi, dibalik semua kerata-rataan saya, saya percaya suatu saat saya akan mempunyai sesuatu yang diatas rata-rata.

Advertisements

Heat temperature, traffic jam, hustle, pollution, it seems that every badness has formed in Jakarta, in the middle of high-rise buildings, thousand of vehicles belch fumes of congested and inhaled again by the rider. How unpleasant to live in Jakarta.

Jakarta now is fulfilled by office buildings, apartments, houses, super-malls, and parking areas. Hardly to find parks, playgrounds, and green open-public. Clutter in Jakarta is getting worse by indifference of government to balance development between environment side and economic side. As a policy-maker government should arrange city’s layout to be accordance with ideal city form, however, it seems that they only build town which profit-oriented without regarding to environment’s health.

While almost all major capitals in Southeast Asian region investing heavily in public transportation, parks, playgrounds, sidewalks, and cultural institutions like museums, Jakarta invests in super-malls, office buildings, parking area, and housing instead. A Paradox of a city that built for the rich while most of Jakarta’s citizens are poor.

Many things happen in Jakarta Improperly, pavements has changed into street vendors, river has changed into waste streams, traffic light has changed into street singer. There are no sidewalks in the entire city, any benches for people to sit and relax, any public toilets which clean and comfortable. No wonder people of Jakarta too lazy to walk, and mosque has functioned as public toilet.

In Jakarta, there is a fee for everything. Many green spaces have been changed to golf courses for exclusive use for the rich. Even a Beach area that was created by nature and supposed to be used freely by city dwellers has changed to private business which organized by few people for their own wealth. Even to take a walk in a dirty beach, people has to spend approximately $1 (10.000 rupiahs) for each person. And cash from parking that manage by few local people, is going nowhere, not even be included to city income.

Most of Jakarta citizens are never left their home country, so that they not be able to compare their capital with other capitals on earth, and maybe this is one reason why Jakarta’s people still hold on in those situations. Despite the fact that the Indonesia’s capital is for many foreign visitors called “hell on earth”, their own communities describe Jakarta as “Metropolitan”.

From year to year population of Jakarta has risen significantly, the greatest urbanization is at the moment after “lebaran” , caused by people who came back to their village brings their comrade to earn a living in Jakarta.

The thing that may caused highly urbanization to Jakarta is the development of the town is very quick. Development that centralized in Jakarta and not following in other cities in Indonesia makes those of urban people think that Jakarta is symbol of success, and in order to get success life they have to live in Jakarta. Highly urbanization and limited job opportunities make Jakarta congested. The people who do not have modal or expertise would ended become street communities, makes criminality become high, they would do anything for live.

The life of urban people has already wrong in Jakarta, cannot be changed, yet still can be fixed. The key is from government, as a policy maker, they should do improvement to arrange the city, maybe with advance study and experiences, the solutions can be found and realized.

One’s thought would never change the world if not following by other’s actions. The biggest question is, would Jakarta people has courage to change their own city?

 

Panas, macet, keramaian, polusi, sepertinya semua keburukan kota terbentuk di Jakarta. Diantara gedung gedung tinggi menjulang tersebut mobil berseliweran, mengeluarkan gas dan debu yang kemudian dihidup lagi oleh pengendaranya, betapa tidak menyenangkannya menghirup udara di jakarta.

Pada saat sekarang ini, jakarta dipenuhi bangunan perkantoran, apartement, perumahan, super-mall, dan lahan parkir, nyaris tidak ada lapangan terbuka, taman, atau ruang terbuka hijau lainnya. Kesemrawutan kota ini diperparah dengan tidak pedulinya pemerintah terhadap keseimbangan pembangunan, pemerintah sebagai pembuat kebijakan seharusnya dapat menyusun tata ruang kota supaya sesuai dengan kondisi kota ideal. Namun yang terlihat selama ini adalah pembangunan kota yang profit-oriented dengan tidak memperhatikan kondisi lingkungan.

Sementara negara-negara lain di asean sedang gencar membangun transportasi massal, ruang publik, taman, dan area berjalan, jakarta juga gencar membangun mall, gedung-gedung perkantoran, lahan parkir, dan perumahan. Sebuah paradox kota yang dibangun untuk orang kaya sementara sebagian besar penduduk  jakarta adalah orang miskin.

Banyak hal tidak layak terjadi di jakarta, trotoar menjadi tempat berjualan, sungai menjadi tempat pembuangan sampah, lampu merah menjadi tempat anak jalanan, di jakarta hampir tidak ada tempat untuk pejalan kaki, tidak ada tempat duduk untuk beristirahat sejenak, tak ada toilet umum yang sehat, tak heran jika orang jadi malas berjalan kaki, mesjid telah menjadi toilet umum.

Di jakarta segalanya terkait dengan uang, lahan kosong dirubah menjadi lapangan golf yang digunakan oleh orang kaya,  bahkan daerah pantai pun yang merupakan bentukan alam yang seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh penduduk jakarta berubah menjadi lahan bisnis segelintir orang, untuk berjalan di pantai saja orang harus merogoh kocek yang tidak sedikit, sepuluh ribu rupiah untuk masuk, pungutan parkir liar yang diatur oleh oknum tertentu, sedangkan uang hasil parkir tersebut tidak satu sen pun masuk kedalam pajak Negara.

Kebanyakan penduduk jakarta tidak pernah meninggalkan kotanya, mereka tidak bisa membandingkan situasi kotanya sendiri dengan kota di Negara lain. Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa warganya sendiri masih bisa bertahan dengan kondisi yang demikian. Sementara para pendatang luar menyebut jakarta sebagai “hell on earth” masyarakatnya sendiri mengatakan kota mereka sebagai “kota metropolitan”.

Dari tahun ke tahun penduduk kota jakarta semakin bertambah, urbanisasi terbesar biasanya adalah setelah hari lebaran, penyebabnya adalah kaum urban yang telah tinggal di jakarta lalu pulang ke kampung halaman untuk berlebaran, kemudian mereka mengajak saudara dan kenalan mereka untuk mencoba peruntungan di kota jakarta.

Hal yang menyebabkan tingginya angka urbanisasi menuju kota jakarta adalah akibat pembangunan kota itu sendiri, sentralisasi pembangunan di ibukota serta tidak adanya pemerataan pembangunan ke daerah membuat kaum urban tersebut berpikir bahwa jakarta adalah lambang kesuksesan, dan untuk menjadi sukses mereka harus ke jakarta. Tingginya angka urbanisasi dan keterbatasan lahan dan lapangan kerja membuat jakarta semakin padat, mereka yang tidak punya modal dan keahlian pada akhirnya akan berujung menjadi anak jalanan, membuat angka kriminalitas semakin tinggi, menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Kehidupan kaum urban telah terlanjur salah di jakarta, tidak bisa dirubah, tapi masih bisa diperbaiki. Kuncinya terletak pada pemerintah, sebagai pembuat kebijakan, sudah seharusnya pemerintah melakukan perbaikan dalam penataan kota, mungkin dengan ilmu yang lebih mendalam, solusi dapat ditemukan dan direalisasikan.

Pemikiran satu orang tidak akan mampu mengubah keadaan jika tidak diikuti oleh tindakan semua orang, pertanyaan terbesarnya adalah, maukah warga jakarta merubah keadaan kotanya sendiri?

Actually, there is no specific concept which control human relationships, the behavior which along to happen now is accumulate of human behavior that constantly repeated in a long-term duration. If it could look closely, there is never have this behavior ratified by human whether it is right or wrong. The only truthfulness comes from God.

Likewise does the relationship between man and women, a song that created by Ismail Marzuki said, it is a fate that women are chattel of a man. Anciently it could be happened, the culture in that era taught women must obeying her husband, adding by exegesis from holy book that women are men’s lea. But along the time flies, the comprehension about that idea has been changed, triggered by women’s action initiated by RA Kartini, women starting to represent herself toward the world, equality of education between man and woman has slowly change paradigm that women deserves to get what they are dream as well.

Emancipation tends bring positive outcomes, women is more advance than the old one, and even at several situation, they more superior from a man, at several countries, women holds the highest position at government, one of Indonesia’s president are a woman. However, in some cases often discrepancy happened in applied of women’s emancipation. Women demand their rights to be equal with men, but in specific condition they often hide behind their weakness. While being debates and could not give worthy argument, they weep, make people around them to think how shameful a man makes the woman crying, in fact they talk at the same capacity. When a man and woman given a duty in same responsibility, the woman demands lower quantity in excuse that they are not the same strength as a man, because of that reason a man is worth to get higher quantity of responsibilities than a woman, in fact the job does not require high power to finish it.

The relation between women and men in this era tends to be changed, the comprehension which evolved nowadays is men seeking women waiting, what kind of self-esteem creates a women to think that they are good enough to be contested, they are not worth to seeking, they are worth to be pursued, they worth to be served, the fact now, men are chattel of women.

So now what is emancipation, if that thing only a reason for women to beat men without being defeated, demand superiority but take cover behind their weaknesses.

Indeed until this moment there is no regulation which control inter-relationship behavior between human, all now happen is just unwritten rules which based on general assumptions related with human’s interest. Uniformity of opinions does not mean real truthfulness, something that justified by people cannot defined as essential truth. Now it is your choices either to follow the truth which adopted by people comprehension or follow the truth which based on your belief of God

Sebenarnya, tak ada pakem khusus yang mengatur hubungan antar-manusia, perilaku yang selama ini terjadi adalah akumulasi dari perbuatan manusia yang telah dilakukan berulang dalam jangka waktu yang panjang, jika sebenarnya ditilik-tilik, belum pernah ada hukum yang mengatur tata cara berhubungan antar sesama manusia, tak ada yang mengesahkan bahwa perilaku ini adalah benar dan perilaku itu adalah salah, sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Tuhan.

Begitu pula dengan hubungan antara seorang pria dan wanita, sebuah lagu yang digugah oleh Ismail Marzuki menyatakan wanita itu dijajah pria. Pada zaman dahulu mungkin saja hal ini terjadi, budaya saat itu mengajarkan wanita harus tunduk kepada suaminya ditambah dengan penafsiran bahwa wanita adalah ladang bagi suaminya. Namun seiring perkembangan zaman pemahaman tersebut mulai berubah, dipicu oleh gerakan emansipasi wanita yang di prakarsai RA Kartini, wanita mulai menunjukkan dirinya kepada dunia, kesetaraan pendidikan pelan-pelan mengubah paradigma bahwa wanita juga layak menjadi apa yang dia inginkan.

Emansipasi cenderung membawa dampak positif, wanita semakin maju, di beberapa kondisi wanita dapat melebihi pria, banyak wanita yang bisa menjadi pemimpin pria, bahkan di beberapa Negara puncak kepemimpinan dipegang oleh seorang wanita, presiden Indonesia pun pernah dijabat seorang wanita. Akan tetapi di beberapa kasus sering terjadi kesenjangan hak dalam aplikasi emansipasi ini, wanita tetap meminta hak untuk disetarakan dengan pria atau melebihinya, namun untuk pekerjaan tertentu wanita sering berlindung dibalik kelemahannya. Ketika sedang diajak debat dan tidak mampu memberikan argumen yang cukup layak, mereka menangis, membuat orang sekeliling mereka berpikir, betapa memalukannya pria telah membuat seorang wanita menangis, padahal mereka sedang berbicara dalam kapasitas yang sama. Ketika wanita dan pria diberikan kuantitas pekerjaan yang sama, seringkali si wanita meminta porsi yang lebih sedikit dengan alasan bahwa mereka tidak sekuat pria, karena itu wajar jika pria mendapat porsi yang lebih banyak, padahal pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik yang besar.

Hubungan antara pria dan wanita pada zaman inipun cenderung berubah, pemikiran yang berkembang pada saat ini adalah pria mencari dan wanita menunggu, entah harga diri macam apa yang membentuk para wanita tersebut untuk berpikir bahwa mereka layak diperebutkan, mereka tidak pantas mengejar, mereka hanya layak dikejar, Mereka pantas dilayani. Pada kenyataannya sekarang pria lah yang lebih banyak dijajah wanita.

Lalu untuk apa emansipasi, kalau itu hanya menjadi alasan wanita untuk mengalahkan pria tanpa harus dikalahkan, meminta superioritas namun berlindung di balik kelemahannya.

Memang sampai saat ini tak ada hukum yang mengatur perilaku hubungan tersebut, apa yang selama ini berlaku hanyalah aturan tak tertulis yang didasari oleh asumsi banyak pihak dengan kepentingan yang sama, keseragaman pendapat belum tentu benar, sesuatu yang dibenarkan banyak orang belum tentu kebenaran yang hakiki, sekarang tinggallah anda yang memutuskan untuk mengikuti kebenaran yang dianut orang banyak atau kebenaran yang anda anut berdasarkan kepercayaan anda terhadap Tuhan.