Panas, macet, keramaian, polusi, sepertinya semua keburukan kota terbentuk di Jakarta. Diantara gedung gedung tinggi menjulang tersebut mobil berseliweran, mengeluarkan gas dan debu yang kemudian dihidup lagi oleh pengendaranya, betapa tidak menyenangkannya menghirup udara di jakarta.

Pada saat sekarang ini, jakarta dipenuhi bangunan perkantoran, apartement, perumahan, super-mall, dan lahan parkir, nyaris tidak ada lapangan terbuka, taman, atau ruang terbuka hijau lainnya. Kesemrawutan kota ini diperparah dengan tidak pedulinya pemerintah terhadap keseimbangan pembangunan, pemerintah sebagai pembuat kebijakan seharusnya dapat menyusun tata ruang kota supaya sesuai dengan kondisi kota ideal. Namun yang terlihat selama ini adalah pembangunan kota yang profit-oriented dengan tidak memperhatikan kondisi lingkungan.

Sementara negara-negara lain di asean sedang gencar membangun transportasi massal, ruang publik, taman, dan area berjalan, jakarta juga gencar membangun mall, gedung-gedung perkantoran, lahan parkir, dan perumahan. Sebuah paradox kota yang dibangun untuk orang kaya sementara sebagian besar penduduk  jakarta adalah orang miskin.

Banyak hal tidak layak terjadi di jakarta, trotoar menjadi tempat berjualan, sungai menjadi tempat pembuangan sampah, lampu merah menjadi tempat anak jalanan, di jakarta hampir tidak ada tempat untuk pejalan kaki, tidak ada tempat duduk untuk beristirahat sejenak, tak ada toilet umum yang sehat, tak heran jika orang jadi malas berjalan kaki, mesjid telah menjadi toilet umum.

Di jakarta segalanya terkait dengan uang, lahan kosong dirubah menjadi lapangan golf yang digunakan oleh orang kaya,  bahkan daerah pantai pun yang merupakan bentukan alam yang seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh penduduk jakarta berubah menjadi lahan bisnis segelintir orang, untuk berjalan di pantai saja orang harus merogoh kocek yang tidak sedikit, sepuluh ribu rupiah untuk masuk, pungutan parkir liar yang diatur oleh oknum tertentu, sedangkan uang hasil parkir tersebut tidak satu sen pun masuk kedalam pajak Negara.

Kebanyakan penduduk jakarta tidak pernah meninggalkan kotanya, mereka tidak bisa membandingkan situasi kotanya sendiri dengan kota di Negara lain. Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa warganya sendiri masih bisa bertahan dengan kondisi yang demikian. Sementara para pendatang luar menyebut jakarta sebagai “hell on earth” masyarakatnya sendiri mengatakan kota mereka sebagai “kota metropolitan”.

Dari tahun ke tahun penduduk kota jakarta semakin bertambah, urbanisasi terbesar biasanya adalah setelah hari lebaran, penyebabnya adalah kaum urban yang telah tinggal di jakarta lalu pulang ke kampung halaman untuk berlebaran, kemudian mereka mengajak saudara dan kenalan mereka untuk mencoba peruntungan di kota jakarta.

Hal yang menyebabkan tingginya angka urbanisasi menuju kota jakarta adalah akibat pembangunan kota itu sendiri, sentralisasi pembangunan di ibukota serta tidak adanya pemerataan pembangunan ke daerah membuat kaum urban tersebut berpikir bahwa jakarta adalah lambang kesuksesan, dan untuk menjadi sukses mereka harus ke jakarta. Tingginya angka urbanisasi dan keterbatasan lahan dan lapangan kerja membuat jakarta semakin padat, mereka yang tidak punya modal dan keahlian pada akhirnya akan berujung menjadi anak jalanan, membuat angka kriminalitas semakin tinggi, menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Kehidupan kaum urban telah terlanjur salah di jakarta, tidak bisa dirubah, tapi masih bisa diperbaiki. Kuncinya terletak pada pemerintah, sebagai pembuat kebijakan, sudah seharusnya pemerintah melakukan perbaikan dalam penataan kota, mungkin dengan ilmu yang lebih mendalam, solusi dapat ditemukan dan direalisasikan.

Pemikiran satu orang tidak akan mampu mengubah keadaan jika tidak diikuti oleh tindakan semua orang, pertanyaan terbesarnya adalah, maukah warga jakarta merubah keadaan kotanya sendiri?

Advertisements