puisi


Kala Senja

tak ada yang lebih indah
selain semburat warna jingga
yang dipancarkan matahari kala senja
tak tersisa kegarangannya
hanya hangat yang terpancar
memberi sedikit harapan
saat dingin malam mulai menjalar

tak ada yang lebih ramah
daripada semburat warna jingga
yang dipancarkan matahari kala senja
sesaat sebelum pekat hitam menjalar
masih tersisa setitik cahaya
agar setiap yang berlalu
masih bisa menemukan jalannya

tak ada yang lebih arif
daripada matahari kala senja
bahkan sesaat sebelum tenggelam
masih bisa ia berkata
aku cinta kalian semua

karena itu aku begitu mencintainya

-aulia-

Advertisements

Engkau dan Hawa

Masihkah kau mau menemaniku memeluk mimpi-mimpi itu
mimpi tentang surga yang bisa digapai makhluk-makhluk mungil
kuletakkan mimpi itu sejengkal diatas batas anganku
agar kubiarkan engkau yang akan menggapaikannya untukku

masihkah kau mau berbagi cerita denganku
cerita tentang taman-taman bunga dibalik semburat kabut pagi
tak akan pernah kubayangkan bentuk taman itu
agar kubiarkan engkau yang akan menceritakannya padaku

(more…)

Woman was created from the ribs of a man
not from his head to be above him
not from his feet to be walk upon him
but from his side to be equal
near to his arm to be protected
and close to his heart to be loved

saya pernah merasa terpuruk, begitu terpuruknya hingga dada ini sesak dan nyaris buta akan keberadaan-Nya. sampai suatu saat saya membaca sebuah novel dan berisi sebuah puisi yang kembali menyadarkan saya bahwa saya adalah makhluk-Nya yang lemah

adapun puisinya adalah sebagai berikut :

step by step

(more…)