Sudah lama tak menulis di blog ini, mungkin karena kesibukan, sebenarnya banyak ide yang ingin saya tuangkan di sini, namun terlalu sulit menemukan waktu untuk mengubahnya menjadi tulisan, kemarin saya mendengarkan ceramah yang menarik dan saya niatkan untuk menuliskannya di blog ini, jadi saya sempatkan waktu untuk menulis sebelum hilang dari ingatan saya 😀

jumat kemarin saya mendengarkan khutbah yang sangat menarik, pembahasannya adalah tentang perceraian, meskipun topik ini sangat jauh dari kehidupan saya sekarang ( saya belum menikah apalagi bercerai :D) namun sangat menarik, dan memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Khutbahnya sendiri tidak saya catat apalagi direkam, saya tuliskan disini sebanyak yang saya ingat karena saya yakin khutbah ini sangat berharga untuk hanya diingat sementara kemudian dilupakan

Saya tuliskan sepanjang ingatan saya semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua

Khutbah jumat kali ini membahas tentang perceraian

Akhir2 ini banyak sekali terjadi perceraian, baik itu yang perkawinannya baru berumur pendek atau yang sudah berumur panjang, mulai dari usia perkawinan 2 minggu sampai dengan usia perkawinan puluhan tahun. Penyebab perceraian itu sendiri sangat banyak sekali, mulai dari masalah sangat sepele sampai masalah yang benar2 berat

Secara persentase kasus perceraian paling banyak adalah mereka yang usia perkawinannya dibawah 5 tahun kadang dengan alasan yang sangat sepele. Pada dasarnya manusia itu selalu mempunyai keinginan, mempunyai impian dalam pernikahannya, namun seringkali impian tersebut tidak tercapai setelah mereka menikah sehingga menyebabkan frustasi, kecewa, dan akhirnya akan saling menyalahkan. Inilah yang menjadi pemicu terjadinya perceraian.

Hal pertama yang perlu dilakukan pasangan yang akan menikah dan baru menikah adalah menurunkan ekspektasi, manusia boleh bermimpi, tapi jangan terlalu memaksakan, menikah itu separuh agama, jika sudah menikah tinggal melakukan separuhnya lagi, setiap tindakan yang dilakukan orang yang sudah menikah adalah ibadah, jika ditambah lagi dengan beribadah maka agamanya akan menjadi sempurna.

Permasalahan terjadi ketika keduanya kemudian terlalu memaksakan apa yang mereka impikan, kadang demi mengejar mimpinya mereka jadi meninggalkan keluarga, terlalu sibuk mengurus duniawi, tidak sedikit bukti menunjukkan orang yang sukses di karir, namun gagal di keluarga, sukses membangun perusahaan, namun tidak bisa membangun rumah tangga, apalah artinya jadi CEO yang mempunyai ribuan karyawan kalau tidak mampu membangun keluarga.

Alasan yang mereka keluarkan ketika bercerai adalah karena mereka tidak berjodoh. Jodoh memang urusan Tuhan. Takdir, jodoh, dan mati memang hanya Tuhan yang tahu, namun bukan berarti manusia menjadikan hal tersebut sebagai alasan. Tuhan telah menciptakan manusia dengan jodohnya masing-masing, tapi jodoh yang ditetapkan Tuhan tidak menyebutkan nama, Tuhan tidak menyebutkan si A berjodoh dengan si  B, si Romi berjodoh dengan di Yuli, si Yusuf berjodoh dengan Zulaikha, atau si Majnun berjodoh dengan Laila, jodoh yang ditetapkan Tuhan adalah tentang kualitas, kualitas si A sama dengan kualitas si B maka mereka berjodoh. Dalam surat An-Nuur : 26 disebutkan wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah untuk wanita yang keji pula, dan wanita yang baik baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik adalah untuk wanita yang baik baik pula.

Dalam ayat tersebut Tuhan tidak menyebutkan si A berjodoh dengan si B, yang disebutkan adalah tentang kualitas, bahwa pria yang baik akan berjodoh dengan wanita yang baik. Selama mereka mempunyai kualitas yang sama maka mereka akan terus berjodoh. Penyebab utama perceraian adalah tentang ini, ketika kualitas mereka tidak lagi sama, ketika salah satu dari mereka kualitasnya berkurang maka perceraian hanya tinggal menunggu waktu.

Perbuatan halal namun dibenci oleh Tuhan adalah cerai, ini adalah perbuatan yang sangat ambigu, jika Tuhan mengatakan bahwa suatu perbuatan adalah halal dan dicintai oleh Tuhan maka hal tersebut sudah sangat jelas, kita sebagai manusia harus melakukannya, jika ada suatu perbuatan yang haram dan dibenci oleh Tuhan, maka hal tersebut juga sudah sangat jelas, kita dilarang melakukannya, namun jika ada perbuatan yang halal namun di benci oleh Tuhan, maka ini sangat ambigu, perlu suatu alasan yang sangat kuat untuk menjelaskannya, permasalahannya adalah, dapatkah manusia memberi penjelasan yang diterima oleh Tuhan dalam pertanggunjawaban manusia kepada Tuhan?

Salah satu alasan klise manusia dalam bercerai juga adalah bahwa itu adalah keputusan mereka berdua, orang lain tidak tahu dan jangan ikut campur, namun mereka lupa bahwa mereka tidak boleh hanya memikirkan kepentingan mereka, mereka juga harus melibatkan orang lain, betapa sombongnya mereka ketika memutuskan bercerai namun tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, tidak ingatkah mereka bahwa ketika mereka menikah mereka juga membutuhkan orang lain, tidak akan sah pernikahan mereka jika tidak diakui oleh orang lain sebagai saksi, lalu bagaimana mungkin mereka ketika memutuskan bercerai mereka tidak mengikutsertakan orang lain, bertanyalah kepada orang lain, kerabat, atau saudara yang dianggap cukup bijak untuk memberikan solusi, jangan lupakan orang lain.

Bercerai juga adalah suatu takdir, tidak satupun manusia dapat memprediksinya, bukan tidak mungkin orang yang usia perkawinannya sudah 30 tahun namun kemudian memutuskan untuk bercerai. Namun manusia dapat mengusahakannya, apa yang perlu dilakukan adalah menjaga kualitasnya masing-masing sehingga jodoh mereka tetap akan berjalan. Ingatlah bahwa dengan menikah mereka sudah memiliki separuh agama, dengan memelihara keluarga artinya mereka telah memelihara agamanya

Kita manusia, didunia ini adalah untuk beibadah kepada Tuhan, mari kita kembalikan fitrah kita ini, menjadi makhuk yang dicintai oleh Tuhan.